18 April 2006

Pelajaran dari Es Teller 77
Apa sih hebatnya es teller 77? Kalo dipikir-pikir dibandung ada es teller yang jauh lebih nikmat meski hanya dipinggir jalan. Coba rasakan diujung jln bungur, dekat karang setra. Disamping es legit, susu yang banyak dengan buah yang segar. Belinya juga ngantri-ngantri. Dan teman yang pernah dikenalin dengan rasa es teller ini selalu bilang uenak. Tapi mengapa es teller 77 lebih familiar di telinga kita. Dan bahkan saya pernah jalan-jalan ke Sorong, Papua Barat, es Teller ini sudah ada disana.

Mengenal es teller 77 tidak dapat dilepaskan dengan nama Sukyatno. Orang yang hanya mempunyai ijazah SMP tersebut sukses setelah bertahun-tahun menjalani hidup yang serba semrawut. Pengalaman bisnisnya pun termasuk "asal-asalan". Ia pernah menjadi salesman kondom, obat cina, bahan kimia, dan barang-barang teknik. Ia belum pernah diterima sebagaipegawai bulanan. Makanya tidak salah di setiap ada kesempatan seminar dia menyebut dirinya mempunyai gelar MBA (Manusia Bisnis Asal-asalan). Tetapi ia pernah menjadi pemborong bangunan, reklame, leveransir, percetakan, biro jasa sekaligus tukang catut serabutan. Bangkrutpun pernahdialami sampai habis-habisan. Bahkan pada tahun 1978. Sukyatno terpuruk hutang. Hutangnya dibanding kekayaan yang dipunyai ketika itu adalah 10 : 1. Untungnya isteri mempunyai keahlian masak dan berjualan bakmi di garasi rumahnya. Pernah siwirausaha ini meneteskan air matanya karena dari hasiljualan bakminya waktu itu tidak mampu untuk membayarsekolah anaknya. Dan dengan bekal turun kelapangandari bisnis-bisnis sebelumnya, Sukyatno mampu mengembangkan Es Teler 77 dengan cepat dan kini sudah memasuki tahapan stabil. Bahkan saat ini Es Teller 77 sudah menjadi perusahaan yang diwaralabakan.

Ide Es Teler 77 JuaraIndonesia sendiri, sebenarnya bermula darikeberhasilan mertua Sukyatno, Ny Murniati Widjaja,yang memenangkan Juara I Lomba membuat es teler se-Indonesia pada tahun 1982. Peluang itulah yang diambil Skyatno untuk menancapkan bisnisnya. Hal-hal yang perlu dipelajari dari es teller 77 adalah:
1. Mental pemenang. Dilihat dari riwayat hidupnya, Sukyatno adalah orang yang pantang menyerah. Berbagai usaha telah dia lakukan tanpa mengenal lelah dan bahkan tiada hentinya mencoba sesuatu hal yang baru. Meski usahanya pernah terpuruk bahkan hutangnya over dosis, Sukyatno tidak pantang menyerah dengan terus berwirausaha. Ini membuktikan bahwa
dia mempunyai mental sebagai pemenang. Tidak peduli halangan apapun didepan, tetapi tetap melakukannya. Orang mampu seperti ini kalau mempunyai 'dream' yang kuat. Di pikirannya sudah membayangkan dia sukses. Dia mulai sesuatu dari 'finish'.
2. Merk dagang. Es teller yang saya rasakan di jl bungur bandung rasanya enak. tapi tidak mempunyai merk dagang apa-apa. sehingga orang akan kesulitan mengenalnya. Tetapi Es Teller 77 dibuat dan diekspos besar-besaran, sehingga tertanam dalam image bawah sadar setiap orang yang mendengar yaitu Es Teller yang rasanya enak. Ketika Es Teller ini sudah dikenal banyak orang, maka secara otomatis mempunyai nilai jual (brand equity).
3. Diferensiasi. Dimanapun daerahnya kalo kita menemukan orang yang berjualan es Teller, umunya warung tenda dengan lingkungan yang kumuh. Tapi Sukyatno mempunyai kiat lain, yaitu mengubah tampilan 'warung' es Teller menjadi semacam 'kafe' dengan cat dan standar pelayanan yang khas, sehingga terkesan nyaman dan hiegin. Pelajaran yang dapat diperoleh adalah bahwa diferensiasi dalam bisnis mutlak diperlukan, karena jika bentuk penyajian es Teller ini sama dengan produk yang lain, maka bisnis itu sudah seperti bisnis komoditi, artinya beli dimanapun tempatnya ya sama saja. Jika mempunyai diferensiasi dengan produk lain yang sejenis, maka orang akan rela untuk datang meski ditetangganya mungkin ada warung yang sejenis.
4. Bisnis yang diwaralabakan. Menarik sekali, Es Teller diwaralabakan. Selama ini kita familiar mengenal waralaba dari Amerika yang sukses, seperti McD, KFc, dan lain-lain. Meski secara akademis Sukyatno tidak berpendidikan tinggi, namun pikirannya sudah sangat maju dengan cara bisnis waralaba. Membesarkan bisnis bukan dengan cara membesarkan warung yang kita punya. Cara waralaba adalah sarana yang efektif. Kuncinya ada di sistem. Sukyatno pasti membuat sistem yang khas bagi warung Es Tellernya dan memberi kesempatan seluas-luasnya bagi wirausahawan lain untuk mengikuti jejaknya. Dengan 'initial fee' dan 'management fee' yang akan dia peroleh dari setiap waralaba yang dia buka, Sukyatno dipastikan bisnisnya semakin besar dan memasuki dunia "passive income'. Inilah yang disebut dengan aset, yang banyak orang mengharapkannya. Kesuksesan Es Teller 77 tidak terlepas dari motto yang dia pegang: * Hidup ini harus dilakoni (dijalani), bukan hanya di khayalkan. * Kegagalan dalam hidup adalah kesuksesan yangtertunda. * Hidup harus diisi dengan kerja keras, dengan menggunakan akal, bukan Sekedar Okol."

16 April 2006

Ngga Ada Yang Salah dengan 'Duit'
Setiap kali orang ngomongin tentang 'duit' umumnya banyak orang mengatakan bahwa kita materialistis. Memang, dalam hidup duit bukanlah segala-galanya. Tetapi, dengan duit segala jadi bisa. Duit juga menjadi sumber bagi banyak permasalahan didunia, disamping jabatan tentunya. Banyak orang melakukan kriminal ya hanya gara-gara duit. Pelacur, pencuri, perampok, orang korupsi alasanya umumnya satu, yaitu duit. Trus apa yang salah dengan duit. Orang-orang yang baik dan berduit, bisa menjalankan ibadah dengan optimal dan tentunya dapat membantu sesama. La berarti duit juga dapat menjadi ladang amal dong. Jadi, apa salahnya kalau kita ngomongin tentang duit.

Duit hanyalah sekedar alat, karenanya jangan memujanya dan meletakkan diatas segalanya. Yang perlu dipikirkan bagaimana mempelajari perilaku duit. Lo nah!! Saya pernah membaca buku yang sebagian orang menganggap buku tersebut hanyalah 'sampah'. Buku karangan Robert T. Kiyosoki tersebut berjudul "Cashflow Quadrant". Pasti banyak diantara kita pernah membacanya, karena memang buku tersebut pernah 'booming' di Indonesia, bahkan pengarangnyapun pernah berkunjung ke jakarta. Dalam buku tersebut diceritakan bagaimana seseorang mengapatkan income (duit), dan membaginya dalam empat quadrant, yaitu Employ (pegawai), Self Employ (pemilik usaha), Francise (waralaba) dan Investor. Employ dan self employ disebut quadrant kiri, karena pada quadrant ini orang mendapatkan duit dengan membarter kerja, sedang francise dan investor adalah quadrant kanan karena seseorang mendapatkan duit dengan cara memiliki aset. Buku ini pulalah yang banyak mempengaruhi pikiran-pikiran saya. Sering saya berpikir, apanya yang salah dengan buku tersebut sehingga tidak sedikit orang yang menghujat bahkan menghakimi sebagai buku sampah.

Pencarian tentang bagaimana mendapatkan income telah saya lakukan dibanyak literatus. Meski masih dalam skala kecil saya juga sudah memulainya. Jika orang menginginkan duit tidak cukup kerja keras, tapi musti pintar. Menumpuk uang dan membiarkan uang bekerja untuk kita itulah prinsipnya. Menabung tidak salah, tapi dimakan inflasi. Terus gimana caranya? Ada beberapa tips yang mungkin berguna:
1. Tentukan target besarnya, sebenarnya apa yang kita inginkan. Orang mengatakan "impian". Dibanyak teori, impian dapat membangkitkan bagian dari otak besar kita yaitu RAS(reticular activating system), yang dapat menarik berbagai peluang yang dapat menghantarkan pada tujuan kita. Jadi, jangan pernah takut bermimpi besar. Orang-orang sukses didunia dimulai dari impiannya.
2. Hemat dan menabung. Ini yang paling sulit dilakukan. Di sekitar kita terlalu banyak godaan untuk memenuhi rasa "lapar mata" kita ketika melihat berbagai hal yang menarik seperti barang electronik, hp, pakaian, dan lain-lain. Kalau ingin hidup enak dimasa tua perlu dipikirkan langkah ini. Jangan meremehkan menabung, karena selain dapat mengumpulkan modal juga untuk melatih disiplin kita.
3. Ciptakan aset. Sederhananya mesin uang atau pohon uang. Aset adalah segala sesuatu yang mendatangkan uang ke kantong kita. Terkadang orang salah menerjemahkan aset. Sebuah rumah menjadi aset kalau kita kontrakan, tetapi jika kita pakai itu namanya liabilitas, karena kita masih membutuhkan uang untuk bayar pajak, ngecat, memperbaiki, dan lain-lain. Aset tidak harus membutuhkan modal. Menulis buku misalnya. Tapi cuman temen-temen yang aktif menulis masih menyangsikan kejujuran penerbit dengan jumlah penjualannya. Belum lagi royalty yang kecil nilainya. Ada lagi yang membangun aset tanpa modal, yaitu MLM (multi level marketing). Banyak orang lo meremehkan MLM, padahal tidak sedikit orang yang sukses di bidang ini. Selain itu di MLM tempat belajar bisnis secara gratis.
4. Mental "entrepreneurship". Banyak orang yang ketika berbisnis dan rugi satu kali sudah menganggap bahwa dia tidak berbakat. Padahal ketika kuliah selama 5 tahun dan menghabiskan banyak duit tidak mengeluh. Namanya bisnis juga melalui proses. Banyak orang-orang sukses yang bisnisnya dibangun dari minus karena seringnya gagal dan kemudian menjadi raja usaha dibidang tertentu. Mental itu dapat dibentuk. Kegagalan adalah proses belajar. Pada prinsipnya, uang hanya sebagai alat. Jangan pernah merasa takut untuk memulai. Berpikir analisis itu baik, tapi jauh lebih baik kalau kita melakukannya, dengan perhitungan tentunya.

14 April 2006

Akhirnya aku punya Blogger..
Tadinya setiap teman utak-utik blog, aku tidak ngerasa tertarik.. Malah dalam hati sering ngebilang, "dasar ngga ada kerjaan!" La wong friendster-ku aja ngga kerumat. Sejak setaun yang lalu aku punya friendster sangat jarang banget di tengok. Boro-boro temennya bertambah, sejak punya ya itu-itu aja. Aku tuh orang yang agak "malas" maen internetan (tapi getol juga makan internet, maksudnya indomie-telur-kornet he..he.. ngga nyambung). Meski internet ama kantor diumbar abis 24 jam tanpa bayar sepeserpun..tetep aja maleees. Abis suka ngehabisin waktu, mana kerjaan rasanya ngga ada abis-abisnya.
Trus, seminggu lalu aku jalan-jalan ke gramedia, iseng-iseng beli buku tentang blogger ya seminggu tak cuekin aja. aku emang hobi tuk koleksi buku apa aja, etung-etung biar kalo temen ngomongin sesuatu bisa nyambung gitu. Ehm baru kemaren aku baca buku itu kok kayaknya ngga ada salahnya kalo aku juga punya blogger. Pertama, biar aku ngga gatek-gatek amat. Kedua, aku juga suka nulis buku meski sementara ini nulis buku pelajaran, tapi pingen juga nulis buku leadership atau apa gitu. Ketiga, siapa tau bisa nambah temen. Keempat, belajar nulis.Kelima, ngisi waktu luang. Moga akunya rajin nulis juga ya, biar terlatih. Yang namanya nulis juga belajar. Bisa bikin blogger sederhana aja juga dalam rangka proses belajar. Asik juga lo jika tiap hari bisa belajar. Biar kalo ada ide, perasaan gregetan, sharing informasi, de el-el bisa ditulis langsung di blogger. Berharap banyak, blogger aku ini hidup terus, sama dengan impian-impian aku yang ngalir terus dan pingen diwujudin.. m e r d e k a